Tari Baris Klemat adalah tarian ritual sakral khas dari masyarakat pesisir Desa Adat Seseh, Desa Cemagi, Kecamatan Mengwi, Kabupaten Badung, Bali. Tarian ini dipentaskan secara komunal oleh kelompok pria dewasa (sekitar 13 hingga 20 orang) sebagai bagian penting dari upacara Dewa Yadnya, khususnya pada ritual piodalan yang jatuh setiap hari raya Purnama Kapat. Keunikan utama tarian ini terletak pada fungsi dan atributnya, di mana para penari tidak membawa senjata perang konvensional seperti tari Baris pada umumnya, melainkan membawa peralatan nelayan tradisional seperti klemat (dayung bermata dua), kancuh (pengangkat air), dan pancer (kemudi jukung). Keberadaan tari Baris Klemat menjadi simbol rasa syukur, perlindungan spiritual, sekaligus penegasan identitas budaya masyarakat nelayan Seseh yang telah diwariskan secara turun-temurun dengan iringan gamelan Gong Kebyar yang khas.
Kemunculan tarian sakral ini berkaitan erat dengan sejarah pembentukan Desa Adat Seseh dan keberadaan Pura Dalem Segara (atau Pura Bendega). Menurut legenda setempat, sejarahnya bermula ketika I Mekel Menega sedang pergi melaut untuk mencari ikan. Setiap kali ia melempar pancing ke tengah laut, mata pancingnya selalu tersangkut pada sebuah batu karang misterius. Sadar bahwa peristiwa berulang tersebut merupakan sebuah petunjuk spiritual, ia kemudian memohon petunjuk niskala (gaib). Dari sanalah muncul pawisik atau amanat suci untuk mendirikan sebuah tempat pemujaan yang kini dikenal sebagai pura nelayan, sekaligus menciptakan sebuah tarian persembahan menggunakan alat-alat melaut mereka. : Kata "Klemat" atau "Kelemat" berakar dari kata lemat yang dalam bahasa Bali berarti pisau. Nama ini merujuk pada bentuk dayung nelayan berujung dua yang pipih dan tajam menyerupai senjata limpung. Jika tarian Baris secara umum di Bali (yang tercatat sejak zaman Majapahit pada abad ke-14) berfungsi sebagai gambaran barisan prajurit perang, Tari Baris Klemat menggeser konsep tersebut menjadi "pasukan" pelindung laut. Penarinya adalah para nelayan setempat (bendega) yang mendedikasikan alat kerja mereka sebagai sarana suci upacara Dewa Yadnya.
Tari Baris Klemat memiliki nilai dan makna budaya yang sangat mendalam bagi masyarakat maritim di Desa Adat Seseh, berfungsi sebagai simbol harmoni antara manusia, alam, dan pencipta. Secara filosofis dan religius, tarian ini merupakan wujud sujud syukur yang tulus dari para nelayan (bendega) kepada Penguasa Laut atau Dewa Baruna atas kelimpahan hasil tangkapan yang menjadi sumber penghidupan mereka. Melalui penggunaan alat kerja sehari-hari seperti dayung (klemat) sebagai properti tari, masyarakat mengesampingkan ego mereka dan menyucikan sarana mata pencaharian tersebut untuk melebur sifat-sifat buruk manusia. Selain sebagai sarana persembahan, tarian sakral ini dipercaya memiliki kekuatan spiritual sebagai penolak bala (penyambleh) yang memberikan perlindungan serta keselamatan bagi para nelayan saat menerjang ombak di tengah laut lepas. Secara sosial dan kultural, Tari Baris Klemat memuat nilai solidaritas kelompok yang sangat tinggi melalui gerakan tari yang kompak, yang mencerminkan semangat gotong royong (ngayah) dan rasa kebersamaan yang kuat di antara komunitas nelayan setempat. Tarian ini juga berfungsi sebagai penegas identitas maritim Desa Adat Seseh, memastikan bahwa jati diri mereka sebagai masyarakat pesisir tetap lestari dan mengakar kuat dari generasi ke generasi. Di samping itu, tarian ini mengandung pesan ekologis yang mendalam mengenai pelestarian alam, di mana manusia diingatkan untuk selalu menghormati dan menjaga kesucian ekosistem laut demi keberlangsungan hidup bersama.