SIOPK-2026-2QUTRPYO

Tari Telek

🙏 Ritus Baik Terverifikasi Dinas Kebudayaan
1 / 1

Tari Telek di Desa Adat Munggu, Mengwi, adalah dramatari topeng sakral (Tari Wali) berciri khas wajah putih halus yang dipentaskan sebagai bagian ritual penolak bala dan pembersihan desa dari energi negatif. Topeng (Tapel), Menggunakan topeng kayu berwarna putih atau krem berwajah tampan/cantik, tersenyum simetris, dan memancarkan aura ketenangan spiritual yang berwibawa (Sattwam). Dipentaskan secara berkala pada hari suci tertentu di Pura Desa lan Puseh Munggu sebagai pengiring sakral (Napak Pertiwi) sebelum sungsangan Barong Ket turun berstana.

Sejarah dan asal-usul Tari Telek di Desa Adat Munggu, Mengwi, bermula dari kesadaran spiritual para leluhur untuk menciptakan sebuah kesenian ritual penolak bala guna mengatasi ancaman wabah penyakit (pagebluk) dan bencana kelaparan. Secara historis, keberadaan tarian sakral ini terikat erat dengan masa kejayaan Kerajaan Mengwi pada abad ke-17 hingga ke-18, di mana Desa Munggu berfungsi sebagai benteng pertahanan militer yang dihuni oleh para laskar perang perkasa. Setelah memenangkan pertempuran penting di Blambangan, kesenian-kesenian bernuansa magis, termasuk kesenian topeng, dikembangkan di wilayah Munggu sebagai bentuk rasa syukur sekaligus media perlindungan spiritual bagi seluruh krama desa. Secara mitologis, lahirnya Tari Telek di Munggu didasari oleh keyakinan masyarakat pesisir selatan mengenai kerawanan wilayah mereka terhadap infiltrasi energi negatif pembawa penyakit (sasab merana) pada masa pancaroba. Masyarakat mempercayai bahwa penari topeng berwajah putih halus ini merupakan faset perwujudan dari para bidadara atau utusan Dewa Siwa yang turun ke bumi untuk menjinakkan keliaran kekuatan Bhuta Kala serta meredam amarah Dewi Durga. Seiring berjalannya waktu, para tetua Desa Adat Munggu mengodifikasi tarian ini menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari pementasan Sesuhunan Barong Ket dan Rangda di Pura Desa lan Puseh Desa Adat Munggu. Hingga saat ini, pementasan Tari Telek diyakini secara mutlak oleh warga sebagai syarat spiritual wajib untuk menetralisasi desa agar senantiasa aman, subur, dan terhindar dari segala marabahaya.

ari Telek di Desa Adat Munggu, Mengwi, mengandung nilai dan makna budaya yang sangat mendalam bagi kehidupan masyarakatnya, yang seluruhnya bermuara pada konsep keharmonisan kosmos. Secara teologis dan spiritual, tarian sakral ini bermakna sebagai media pembersihan wilayah (somya) untuk mengubah energi destruktif Bhuta Kala menjadi kekuatan positif yang melindungi warga desa dari mara bahaya. Kehadiran topeng berwajah putih halus tersebut mencerminkan nilai estetika spiritual (Sattwam), di mana ketenangan, kedamaian, dan keluhuran budi luhur disimbolkan sebagai senjata utama untuk meredam keliaran hawa nafsu dan amarah di dunia. Secara sosial dan historis, Tari Telek di Desa Munggu memperkuat nilai solidaritas komunal dan pelestarian identitas lokal. Proses pewarisan tarian ini yang dilakukan secara turun-temurun di Pura Desa lan Puseh Munggu melahirkan rasa tanggung jawab kolektif (ngayah) di kalangan generasi muda untuk menjaga warisan leluhur peninggalan era Kerajaan Mengwi. Selain itu, makna budaya tarian ini juga berkaitan erat dengan sistem pertanian (subak), di mana pementasannya dipercaya dapat memohon kesuburan tanah dan menjauhkan lahan pertanian warga Munggu dari serangan hama. Melalui tarian ini, krama Desa Munggu merawat kesadaran bahwa kesehatan fisik, ketahanan pangan, dan ketenteraman batin masyarakat hanya bisa dicapai jika hubungan antara manusia, alam pesisir, dan dunia kedewatan terjaga dengan seimbang.

Kecamatan Mengwi
Desa Dinas Munggu
Desa Adat Desa Adat Munggu
Banjar Adat Banjar Pasekan Munggu
Lokasi Pura Puseh Lan Desa Adat Munggu
Tahun 1935
Pelindungan Sudah Didata Dinas
Frekuensi Rutin 6bulanan
Kepemilikan Pura Keagamaan
Tahu OPK lain?

Bantu kami memetakan lebih banyak warisan budaya Bali.

Lapor OPK Sekarang